Penulis : dr. Muhamad Afrizal, Sp.OT, AIFO-K
Spesialisasi : Ortopedi dan Traumatologi
Ankle sprain saat olahraga atau keseleo pada pergelangan kaki termasuk cedera yang sering terjadi. Cedera ini dapat muncul ketika kaki salah menapak, mendarat dalam posisi yang kurang baik, atau berputar secara tiba-tiba.
Olahraga seperti padel, badminton, tenis, basket, futsal, dan lari melibatkan gerakan yang memberikan beban cukup besar pada pergelangan kaki. Gerakan melompat, mendarat, dan mengubah arah dengan cepat juga dapat meningkatkan risiko cedera. Banyak orang menganggap ankle sprain sebagai cedera ringan yang akan membaik dengan sendirinya. Padahal, tingkat kerusakan ligamen dapat berbeda pada setiap orang. Pada cedera ringan, ligamen mungkin hanya mengalami peregangan. Sementara itu, cedera yang lebih berat dapat menyebabkan robekan sebagian hingga robekan total. Karena itu, penting untuk mengenali tingkat cedera dan gejalanya agar Anda mendapatkan penanganan yang tepat dan tidak kembali berolahraga terlalu cepat.

Apa Itu Ankle Sprain?
Ankle sprain merupakan cedera pada ligamen yang menjaga stabilitas pergelangan kaki. Ligamen menghubungkan satu tulang dengan tulang lainnya sekaligus membantu mengontrol gerakan sendi. Cedera paling sering terjadi ketika telapak kaki berputar ke dalam secara berlebihan. Gerakan tersebut memberikan tekanan besar pada ligamen di sisi luar pergelangan kaki. Namun, mekanisme cedera dapat berbeda pada setiap orang. Pada beberapa kasus, cedera dapat mengenai ligamen sisi dalam atau ligamen yang berada lebih tinggi di antara tulang tungkai bawah. Tingkat kerusakan ligamen akan menentukan berat-ringannya cedera.
Mengapa Ankle Sprain Sering Terjadi Saat Olahraga?
Pergelangan kaki bekerja keras ketika seseorang berlari, melompat, mendarat, dan mengubah arah. Gerakan yang cepat dapat membuat kaki kehilangan posisi stabil. Jika ligamen menerima gaya yang melebihi kemampuannya, ligamen dapat meregang atau robek. Beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko ankle sprain saat olahraga antara lain:
- salah mendarat setelah melompat;
- mengubah arah secara mendadak;
- menginjak kaki pemain lain;
- berlari pada permukaan yang tidak rata;
- kekuatan otot pergelangan kaki yang belum optimal;
- keseimbangan dan kontrol gerakan yang kurang baik;
- kelelahan saat berolahraga; serta
- memiliki riwayat ankle sprain sebelumnya.
Riwayat cedera sebelumnya menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Jika kekuatan, keseimbangan, dan stabilitas pergelangan kaki belum kembali optimal, seseorang dapat lebih mudah mengalami cedera kembali.
Apakah Ankle Sprain Berarti Ligamen Robek?
Tidak selalu. Namun, ankle sprain memang merupakan cedera pada ligamen. Tingkat kerusakan dapat berkisar dari peregangan ringan hingga robekan total. Dokter biasanya menilai tingkat cedera berdasarkan kondisi ligamen, gejala, dan stabilitas pergelangan kaki.
Grade 1: Cedera Ringan
Pada tingkat ringan, ligamen mengalami peregangan atau kerusakan ringan. Pasien biasanya merasakan nyeri ringan dan sedikit pembengkakan. Berjalan mungkin menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi pergelangan kaki umumnya masih memiliki stabilitas yang baik.
Grade 2: Robekan Sebagian
Pada cedera tingkat sedang, sebagian serabut ligamen mengalami robekan. Pasien dapat mengalami pembengkakan dan memar yang lebih jelas. Nyeri saat berjalan juga dapat meningkat. Selain itu, dokter dapat menemukan gangguan stabilitas saat melakukan pemeriksaan.
Grade 3: Robekan Berat atau Total
Pada cedera berat, ligamen mengalami robekan lengkap. Pasien dapat mengalami pembengkakan dan memar yang lebih luas. Pergelangan kaki juga dapat terasa tidak stabil sehingga pasien mengalami kesulitan saat berdiri atau berjalan. Namun, besar pembengkakan atau tingkat nyeri saja tidak dapat memastikan derajat cedera. Dokter perlu menilai mekanisme cedera, lokasi nyeri, stabilitas sendi, dan kemampuan pasien berjalan.
Apa Gejala Ankle Sprain yang Perlu Diperhatikan?
Gejala dapat muncul segera setelah cedera atau semakin jelas dalam beberapa jam berikutnya. Keluhan yang sering muncul antara lain:
- nyeri pada pergelangan kaki;
- pembengkakan;
- memar;
- nyeri ketika menapak;
- gerakan pergelangan kaki menjadi terbatas;
- kesulitan berjalan; dan
- pergelangan kaki terasa goyah pada cedera tertentu.
Beberapa orang juga mendengar atau merasakan sensasi pop ketika cedera terjadi. Sensasi tersebut tidak selalu berarti ligamen mengalami robekan total. Namun, Anda perlu lebih waspada jika sensasi pop muncul bersama nyeri berat, pembengkakan, atau kesulitan berjalan.
Kapan Ankle Sprain Tidak Bisa Dianggap Keseleo Ringan?
Tidak semua cedera pergelangan kaki merupakan keseleo ringan. Anda perlu lebih waspada jika cedera menyebabkan:
- nyeri yang sangat berat;
- pembengkakan yang muncul cepat atau semakin luas;
- memar yang semakin luas;
- kesulitan berdiri atau berjalan;
- tidak mampu menopang berat badan;
- pergelangan kaki terasa sangat tidak stabil;
- perubahan bentuk setelah cedera;
- mati rasa atau kesemutan; atau
- nyeri yang tidak menunjukkan perbaikan.
Selain ligamen, trauma pada pergelangan kaki dapat mencederai tulang, tendon, tulang rawan, atau struktur lainnya. Oleh karena itu, jangan langsung menganggap setiap cedera pergelangan kaki sebagai keseleo biasa.
Apa yang Harus Dilakukan Setelah Ankle Sprain?
Segera hentikan aktivitas jika pergelangan kaki terasa nyeri setelah cedera. Jangan mencoba “mengetes” kondisi pergelangan kaki dengan terus berlari atau kembali bermain. Pada fase awal, lindungi pergelangan kaki dari aktivitas yang dapat memperberat cedera. Beberapa langkah berikut dapat membantu:
- hentikan sementara aktivitas yang memicu nyeri;
- gunakan kompres dingin untuk membantu mengurangi nyeri;
- lakukan kompresi dengan tepat jika kondisi memungkinkan;
- tinggikan kaki jika muncul pembengkakan; dan
- mulai kembali bergerak secara bertahap ketika kondisi memungkinkan.
Setelah fase awal, gerakan dan pembebanan secara bertahap memiliki peran penting dalam proses pemulihan. Namun, setiap cedera memiliki tingkat keparahan yang berbeda. Karena itu, sesuaikan pembebanan dengan kondisi jaringan, tingkat nyeri, dan stabilitas pergelangan kaki. Pada cedera yang lebih berat, dokter dapat menyarankan brace atau alat bantu untuk sementara waktu.
Apakah Ankle Sprain Perlu Rontgen atau MRI?
Tidak semua ankle sprain saat olahraga membutuhkan rontgen atau MRI. Dokter akan menilai lokasi nyeri, pembengkakan, kemampuan berjalan, rentang gerak, serta stabilitas pergelangan kaki terlebih dahulu. Jika dokter mencurigai patah tulang berdasarkan mekanisme cedera dan hasil pemeriksaan, dokter dapat meminta rontgen. Dokter juga dapat menggunakan kriteria klinis seperti Ottawa Ankle Rules untuk membantu menentukan kebutuhan pemeriksaan rontgen pada cedera akut. Sementara itu, dokter dapat mempertimbangkan MRI jika keluhan menetap atau jika dokter mencurigai cedera ligamen, tendon, tulang rawan, maupun jaringan lain yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut. Dengan demikian, dokter tidak perlu melakukan MRI pada setiap kasus ankle sprain.
Apakah Ligamen Pergelangan Kaki yang Robek Selalu Harus Operasi?
Tidak.
Dokter dapat menangani banyak cedera ligamen pergelangan kaki tanpa operasi, termasuk sebagian cedera dengan tingkat kerusakan yang cukup berat. Penanganan dapat mencakup perlindungan sementara, pembebanan secara bertahap, penggunaan brace sesuai indikasi, dan program rehabilitasi. Fisioterapi memiliki peran penting untuk membantu meningkatkan:
- rentang gerak;
- kekuatan otot;
- keseimbangan;
- propriosepsi atau kemampuan tubuh mengenali posisi sendi;
- kontrol gerakan; dan
- stabilitas pergelangan kaki.
Pada kondisi tertentu, dokter dapat mempertimbangkan operasi jika pasien tetap mengalami ketidakstabilan setelah menjalani terapi dan rehabilitasi yang adekuat. Cedera lain yang menyertai ankle sprain juga dapat memengaruhi keputusan tersebut. Jadi, robekan ligamen tidak otomatis berarti pasien harus menjalani operasi.
Mengapa Rehabilitasi Penting Setelah Ankle Sprain?
Salah satu kesalahan yang sering terjadi setelah ankle sprain adalah kembali berolahraga hanya karena rasa sakit sudah berkurang. Nyeri dapat membaik lebih dahulu. Namun, kekuatan, keseimbangan, dan kontrol pergelangan kaki mungkin belum kembali optimal. Jika seseorang kembali berolahraga terlalu cepat, pergelangan kaki dapat lebih mudah terkilir kembali. Cedera berulang juga dapat meningkatkan risiko chronic ankle instability, yaitu kondisi ketika pergelangan kaki sering terasa goyah atau berulang kali mengalami keseleo. Karena itu, rehabilitasi tidak hanya bertujuan mengurangi nyeri. Program rehabilitasi juga membantu mengembalikan kekuatan, keseimbangan, kontrol gerakan, dan stabilitas pergelangan kaki.
Kapan Boleh Kembali Berolahraga?
Jangan menentukan kesiapan kembali berolahraga hanya berdasarkan hilangnya rasa nyeri. Sebelum kembali melakukan aktivitas olahraga, perhatikan beberapa hal berikut:
- nyeri sudah minimal atau tidak ada;
- pembengkakan sudah terkendali;
- pergelangan kaki dapat bergerak dengan baik;
- kekuatan otot sudah memadai;
- keseimbangan dan kontrol gerakan sudah baik;
- pergelangan kaki tidak terasa goyah; dan
- Anda mampu melakukan gerakan yang sesuai dengan olahraga tanpa menimbulkan keluhan.
Setelah memenuhi kondisi tersebut, tingkatkan intensitas latihan secara bertahap. Mulailah dengan gerakan sederhana. Selanjutnya, tingkatkan latihan menuju aktivitas yang melibatkan lompatan, perubahan arah, dan gerakan eksplosif sesuai kebutuhan olahraga.
Kapan Harus Memeriksakan Ankle Sprain ke Dokter?
Pertimbangkan pemeriksaan dokter apabila ankle sprain saat olahraga menyebabkan:
- nyeri berat atau semakin memburuk;
- pembengkakan atau memar yang luas;
- kesulitan berjalan;
- tidak mampu menopang berat badan;
- pergelangan kaki terasa tidak stabil;
- perubahan bentuk setelah cedera;
- mati rasa atau kesemutan;
- keluhan tidak menunjukkan perbaikan; atau
- keseleo terus berulang.
Dokter akan menilai bagaimana cedera terjadi, lokasi nyeri, stabilitas, rentang gerak, dan kemampuan pasien berjalan. Setelah itu, dokter dapat menentukan pilihan terapi dan mempertimbangkan pemeriksaan penunjang jika kondisi pasien membutuhkannya.
Jangan Anggap Semua Ankle Sprain sebagai Cedera Ringan
Ankle sprain memang sering terjadi saat olahraga. Namun, tingkat kerusakan ligamen dapat berbeda pada setiap cedera. Sebagian orang hanya mengalami peregangan ringan dan dapat kembali beraktivitas setelah menjalani pemulihan yang tepat. Sementara itu, cedera yang lebih berat dapat menyebabkan robekan ligamen dan membutuhkan program rehabilitasi yang lebih terstruktur. Karena itu, jangan hanya menunggu rasa sakit menghilang. Perhatikan juga pembengkakan, kemampuan berjalan, kekuatan, keseimbangan, dan stabilitas pergelangan kaki. Penanganan serta rehabilitasi yang tepat membantu mengembalikan fungsi pergelangan kaki sekaligus mengurangi risiko cedera berulang. Dengan demikian, Anda dapat kembali beraktivitas dan berolahraga dengan lebih aman.
