Penulis : dr. Stefanus Hengkie Marseno, Sp.OT.Subsp.OA,M.H
Spesialisasi : Ortopedi dan Traumatologi Subspesialis Ortopedi Anak
Banyak orang tua merasa kesulitan ketika dokter harus memeriksa anak. Tidak sedikit anak yang langsung menangis, menolak disentuh, bahkan berusaha menghindar begitu memasuki ruang pemeriksaan.
Kondisi ini sebenarnya sangat umum terjadi, terutama pada anak usia balita hingga usia prasekolah. Ketakutan tersebut bukan berarti anak “nakal” atau “manja”. Ketakutan ini merupakan respons alami terhadap lingkungan baru, orang yang belum dikenal, atau pengalaman medis yang pernah dianggap tidak menyenangkan.
Kabar baiknya, orang tua dapat mengurangi rasa takut ini apabila mempersiapkan anak dengan cara yang tepat. Persiapan sebelum datang ke dokter sering kali menentukan apakah kunjungan akan berjalan lancar atau justru menjadi pengalaman yang membuat anak semakin takut pada pemeriksaan berikutnya.

Berikan Penjelasan yang Jujur kepada Anak
Salah satu hal yang paling penting adalah memberikan penjelasan yang jujur sesuai usia anak. Hindari mengatakan bahwa pemeriksaan “tidak akan sakit sama sekali”. Apabila ada kemungkinan anak akan merasa sedikit tidak nyaman, sampaikan hal tersebut dengan jujur. Sebaliknya, gunakan kalimat sederhana seperti, “Dokter akan melihat kaki atau tangan adik supaya tahu kenapa terasa sakit dan membantu supaya cepat sembuh.” Penjelasan yang jujur membantu membangun rasa percaya anak kepada orang tua maupun tenaga kesehatan. Orang tua juga sebaiknya tidak menggunakan dokter sebagai ancaman, misalnya dengan mengatakan. “Kalau nakal nanti disuntik dokter.” Kalimat seperti ini dapat membentuk persepsi bahwa dokter adalah sosok yang menakutkan. Sebaliknya, kenalkan dokter sebagai orang yang membantu anak tetap sehat sehingga anak dapat kembali bermain dengan nyaman.
Persiapkan Anak Sebelum Datang ke Dokter
Sebelum hari pemeriksaan, orang tua dapat mengajak anak bermain peran menggunakan boneka atau mainan dokter.
Aktivitas sederhana seperti berpura-pura memeriksa denyut jantung, mendengarkan napas menggunakan stetoskop mainan, atau membalut boneka dengan perban dapat membuat anak lebih familiar dengan suasana pemeriksaan. Cara ini juga membantu mengurangi kecemasannya.
Ciptakan Suasana yang Tenang Saat Pemeriksaan
Sebelum hari pemeriksaan, orang tua dapat mengajak anak bermain peran menggunakan boneka atau mainan dokter. Aktivitas sederhana seperti berpura-pura memeriksa denyut jantung, mendengarkan napas menggunakan stetoskop mainan, atau membalut boneka dengan perban dapat membuat anak lebih familiar dengan suasana pemeriksaan. Cara ini juga membantu mengurangi kecemasannya.
Saat berada di ruang praktik, usahakan orang tua tetap tenang. Anak sangat mudah menangkap ekspresi dan emosi orang tuanya. Jika orang tua terlihat panik atau cemas, anak cenderung ikut merasa takut. Sebaliknya, sikap yang tenang, suara yang lembut, serta sentuhan yang menenangkan dapat membantu anak merasa lebih aman selama pemeriksaan.
Membawa benda favorit anak, seperti boneka kesayangan, selimut kecil, atau mainan favorit, juga dapat memberikan rasa nyaman. Pada bayi, menyusui atau memberikan susu sesuai usia sebelum atau setelah tindakan tertentu juga terbukti membantu mengurangi stres. Cara ini juga memberikan efek menenangkan.
Apa yang Dilakukan Dokter Saat Pemeriksaan?
Pada pemeriksaan ortopedi anak, dokter sering kali perlu menggerakkan lengan, kaki, atau sendi. Tujuannya adalah menilai fungsi gerak dan mencari sumber keluhan.
Orang tua tidak perlu khawatir apabila anak tampak sedikit tidak nyaman saat pemeriksaan berlangsung. Dokter akan berusaha melakukan pemeriksaan dengan teknik yang lembut dan sesingkat mungkin. Apabila anak perlu ditenangkan terlebih dahulu, dokter akan menghentikan pemeriksaan sementara.
Berikan Apresiasi Setelah Pemeriksaan
Setelah pemeriksaan selesai, berikan apresiasi kepada anak karena telah bekerja sama, meskipun ia sempat menangis. Pujian seperti “Adik hebat, dokter sudah memeriksa adik dengan baik.” atau memberikan pelukan dapat membangun pengalaman positif. Cara ini membantu anak lebih siap menghadapi kunjungan berikutnya.
Orang tua juga boleh memberikan hadiah sederhana sebagai bentuk penghargaan. Namun, sebaiknya jangan menjadikan hadiah sebagai “suap” sebelum pemeriksaan.
Biasakan Anak Datang ke Dokter
Yang tidak kalah penting, usahakan anak datang ke dokter bukan hanya ketika sakit berat. Pemeriksaan kesehatan rutin atau kontrol berkala dapat membantu anak mengenal lingkungan rumah sakit sebagai tempat yang aman. Seiring waktu, rasa takut anak biasanya akan berkurang.
Sebagian besar anak pada akhirnya mampu beradaptasi dengan baik terhadap pemeriksaan medis apabila mendapatkan dukungan dari orang tua dan tenaga kesehatan. Pengalaman pertama yang positif akan menjadi modal penting agar anak tidak memiliki trauma terhadap pelayanan kesehatan hingga dewasa.
Kapan Orang Tua Perlu Memberi Tahu Dokter?
Apabila anak tampak sangat ketakutan sehingga dokter belum dapat melakukan pemeriksaan, atau memiliki pengalaman traumatis terhadap tindakan medis sebelumnya, sampaikan hal tersebut kepada dokter sebelum pemeriksaan dimulai. Dokter dapat menyesuaikan pendekatan pemeriksaan agar anak merasa lebih nyaman. Kerja sama yang baik antara orang tua, anak, dan dokter merupakan kunci terciptanya pengalaman berobat yang positif.
Kesimpulan
Rasa takut saat diperiksa dokter merupakan hal yang wajar pada anak. Namun, orang tua dapat membantu menguranginya melalui persiapan yang tepat, komunikasi yang jujur, serta pendampingan yang tenang selama pemeriksaan. Pengalaman pertama yang menyenangkan akan membantu anak lebih percaya diri saat menjalani pemeriksaan berikutnya dan membangun hubungan yang positif dengan tenaga kesehatan.
Setiap anak berhak mendapatkan pengalaman berobat yang nyaman. Apabila buah hati Anda masih takut diperiksa dokter atau memiliki keluhan pada tulang, sendi, maupun cara berjalan, jangan ragu untuk berkonsultasi lebih awal. Pemeriksaan sejak dini membantu dokter mengenali penyebab keluhan dan menentukan langkah penanganan yang tepat sesuai kondisi anak.
