Nyeri Bahu Saat Mengangkat Tangan? Waspadai Cedera Rotator Cuff

Penulis : dr. Bertha Kurniantoro Saputro, Sp.OT.Subsp.OBS(K)
Spesialisasi : Ortopedi dan Traumatologi Subspesialis Bahu dan Siku

Cedera rotator cuff dapat menyebabkan nyeri bahu saat mengangkat tangan dan membuat bahu terasa lebih lemah. Bahu tidak hanya membantu kita mengangkat lengan, tetapi juga memberikan kekuatan saat membawa, menarik, atau menjangkau benda.

Ketika tendon bahu mulai mengalami gangguan, keluhan pertama sering kali bukan nyeri hebat. Sebagian orang justru mulai merasakan bahu lebih lemah atau tidak nyaman saat melakukan aktivitas tertentu.

Keluhan dapat berkembang secara perlahan sehingga banyak orang menganggapnya sebagai pegal, pengapuran, atau akibat salah posisi tidur. Salah satu penyebab yang perlu mendapat perhatian adalah cedera rotator cuff. Kondisi ini melibatkan tendon yang berperan penting dalam menjaga kekuatan dan kestabilan bahu.

Jika keluhan terus berlanjut, fungsi bahu dapat semakin terganggu. Karena itu, pemeriksaan sejak dini membantu dokter mengenali penyebab keluhan dan menentukan penanganan yang sesuai.

Apa Itu Cedera Rotator Cuff?

Rotator cuff merupakan kelompok empat otot beserta tendonnya yang mengelilingi sendi bahu. Struktur ini membantu menjaga kepala tulang lengan atas tetap stabil pada sendi bahu sekaligus mendukung berbagai gerakan lengan.

Kita menggunakan rotator cuff saat mengangkat tangan, memutar lengan, mengambil barang di rak atas, mengenakan pakaian, hingga melakukan berbagai aktivitas olahraga.

Cedera dapat terjadi ketika satu atau beberapa tendon mengalami gangguan, mulai dari tendinopati hingga robekan sebagian (partial-thickness tear) atau robekan seluruh ketebalan tendon (full-thickness tear).

Tidak semua gangguan rotator cuff memiliki tingkat keparahan yang sama. Karena itu, dokter perlu mempertimbangkan jenis kelainan, ukuran robekan, kekuatan bahu, usia, aktivitas, dan kebutuhan pasien sebelum menentukan terapi.

cedera rotator cuff
Ilustrasi Cedera rotator cuff dapat menimbulkan nyeri, kelemahan, dan keterbatasan saat mengangkat atau menggerakkan lengan.

Apa Penyebab Cedera Rotator Cuff?

Secara umum, masalah pada rotator cuff dapat muncul secara bertahap akibat proses degeneratif atau secara tiba-tiba setelah cedera. Seiring bertambahnya usia, struktur tendon dapat mengalami perubahan degeneratif. Perubahan tersebut membuat tendon lebih rentan mengalami gangguan dan robekan.  Aktivitas berulang juga dapat memberikan beban besar pada tendon bahu. Risiko dapat meningkat pada orang yang sering bekerja dengan tangan di atas kepala, pekerja konstruksi, perenang, serta atlet yang banyak melakukan gerakan melempar atau mengayunkan raket. Cedera akut juga dapat memicu robekan. Misalnya, seseorang terjatuh dengan tangan menopang tubuh atau mengangkat benda berat secara mendadak. Pada beberapa orang, kombinasi faktor usia, kualitas tendon, aktivitas berulang, dan trauma ikut berperan dalam munculnya keluhan.

Gejala Cedera Rotator Cuff yang Perlu Dikenali

Gejala cedera rotator cuff dapat berbeda pada setiap orang. Keluhan juga bergantung pada jenis dan luas gangguan tendon. Beberapa gejala yang sering muncul antara lain:

  • nyeri pada bahu, terutama saat mengangkat lengan;
  • nyeri ketika menjangkau benda di atas kepala;
  • bahu terasa lebih lemah;
  • kesulitan membawa atau mengangkat barang;
  • nyeri ketika tidur miring pada sisi bahu yang bermasalah;
  • kesulitan melakukan aktivitas seperti menyisir rambut atau mengenakan pakaian; dan
  • penurunan kekuatan atau fungsi bahu.

Pada sebagian pasien, nyeri menjadi keluhan utama. Namun, pasien lain justru lebih terganggu oleh kelemahan atau penurunan fungsi bahu. Karena itu, bahu yang semakin lemah juga perlu mendapat perhatian meskipun rasa nyerinya tidak terlalu berat.

Apakah Semua Nyeri Bahu Berarti Cedera Rotator Cuff?

Tidak.

Berbagai kondisi dapat menimbulkan keluhan yang menyerupai cedera rotator cuff. Beberapa di antaranya meliputi frozen shoulder, osteoarthritis bahu, tendinopati, gangguan tendon lain, serta masalah saraf yang berasal dari leher. Sebagai contoh, pasien dengan frozen shoulder biasanya mengalami keterbatasan gerak aktif dan pasif yang nyata. Sementara itu, masalah rotator cuff dapat lebih menonjolkan nyeri atau kelemahan pada gerakan tertentu. Dokter akan menanyakan riwayat keluhan dan memeriksa gerakan, kekuatan, serta fungsi bahu. Pemeriksaan tersebut membantu dokter memperkirakan struktur yang menjadi sumber masalah. Jika membutuhkan informasi tambahan, dokter dapat menggunakan pemeriksaan pencitraan. Foto rontgen membantu menilai struktur tulang dan perubahan pada sendi. Sementara itu, USG muskuloskeletal atau MRI dapat membantu menilai kondisi tendon rotator cuff.

Namun, dokter tidak menentukan terapi hanya berdasarkan hasil MRI. Dokter juga mempertimbangkan gejala, pemeriksaan fisik, usia, tingkat aktivitas, ukuran robekan, dan kebutuhan fungsional pasien.

Bagaimana Penanganan Cedera Rotator Cuff?

Penanganan cedera rotator cuff bergantung pada jenis dan ukuran robekan, usia, tingkat aktivitas, kekuatan bahu, serta kebutuhan setiap pasien. Tidak semua robekan membutuhkan operasi. Pada banyak pasien, dokter dapat memulai penanganan dengan terapi konservatif. Tujuannya yaitu mengurangi nyeri sekaligus mempertahankan atau meningkatkan fungsi bahu. Pilihan terapi dapat mencakup:

  • penyesuaian aktivitas yang memicu keluhan;
  • obat antinyeri atau antiinflamasi sesuai indikasi;
  • fisioterapi untuk meningkatkan mobilitas, kekuatan, dan kontrol bahu; serta
  • terapi injeksi pada kondisi tertentu sesuai indikasi.

Fisioterapi memegang peran penting dalam penanganan konservatif. Program latihan dapat membantu meningkatkan fungsi otot bahu dan skapula. Terapis akan menyesuaikan latihan dengan kondisi serta kemampuan pasien.

Pada kondisi tertentu, dokter juga dapat mempertimbangkan pendekatan biologis seperti Platelet-Rich Plasma (PRP). Namun, manfaat PRP dapat berbeda menurut jenis gangguan tendon dan kondisi pasien. PRP juga tidak berarti dapat menyambungkan kembali semua tendon yang mengalami robekan. Karena itu, dokter perlu mempertimbangkan indikasi dan bukti ilmiah sebelum memilih terapi ini.

Kapan Cedera Rotator Cuff Memerlukan Operasi?

Dokter dapat mempertimbangkan operasi ketika karakteristik robekan dan kondisi pasien menunjukkan kebutuhan untuk memperbaiki tendon. Pertimbangan tersebut antara lain robekan akut yang signifikan, robekan besar, kelemahan yang bermakna, kebutuhan aktivitas yang tinggi, atau keluhan yang tetap mengganggu setelah pasien menjalani terapi konservatif secara memadai. Salah satu teknik yang dapat dokter gunakan adalah arthroscopic rotator cuff repair. Melalui teknik arthroscopy, dokter memasukkan kamera kecil dan instrumen khusus melalui sayatan kecil untuk mengevaluasi serta memperbaiki tendon sesuai kondisi pasien.

Namun, keputusan operasi tidak hanya bergantung pada ukuran robekan. Dokter juga perlu mempertimbangkan usia robekan, kualitas tendon dan otot, tingkat kelemahan, aktivitas, serta tujuan pasien. Robekan kronis yang semakin besar dapat menyebabkan tendon mengalami retraksi dan otot mengalami atrofi serta infiltrasi lemak. Perubahan tersebut dapat membuat proses perbaikan menjadi lebih kompleks. Oleh karena itu, pasien dengan kelemahan progresif atau gangguan fungsi sebaiknya tidak menunda evaluasi.

Jangan Abaikan Bahu yang Semakin Lemah

Nyeri bahu setelah aktivitas berat dapat berkurang setelah tubuh mendapat waktu pemulihan. Namun, keluhan yang terus berlangsung selama beberapa minggu perlu mendapat perhatian. Konsultasikan dengan dokter apabila:

  • nyeri tidak kunjung membaik;
  • bahu terasa semakin lemah;
  • sulit mengangkat lengan;
  • nyeri malam mengganggu tidur;
  • keluhan muncul setelah jatuh atau cedera; atau
  • fungsi bahu mulai mengganggu pekerjaan, olahraga, dan aktivitas sehari-hari.

Dokter spesialis ortopedi subspesialis bahu dan siku dapat membantu mencari penyebab keluhan serta menentukan penanganan yang sesuai.

Diagnosis yang tepat membantu dokter memilih antara terapi konservatif, rehabilitasi, terapi tambahan, atau tindakan operasi sesuai kebutuhan. Tujuan penanganan bukan hanya mengurangi rasa nyeri, tetapi juga mempertahankan kekuatan, fungsi, dan kemampuan bahu agar pasien dapat kembali beraktivitas dengan nyaman.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *