Bahu Terasa Kaku dan Sulit Diangkat? Bisa Jadi Frozen Shoulder

Penulis : dr. Bertha Kurniantoro Saputro, Sp.OT.Subsp.OBS(K)
Spesialisasi : Ortopedi dan Traumatologi Subspesialis Bahu dan Siku

Frozen shoulder sering menjadi penyebab bahu terasa kaku, nyeri, dan semakin sulit digerakkan. Kondisi ini berkembang secara perlahan sehingga banyak orang menganggapnya hanya sebagai pegal biasa atau akibat salah posisi tidur. Padahal, semakin cepat dokter mengenali frozen shoulder, semakin besar peluang pasien mempertahankan fungsi bahu dan kembali beraktivitas dengan nyaman.

Pernah Merasa Bahu Semakin Sulit Digerakkan? 

Awalnya mungkin hanya terasa sedikit nyeri ketika Anda mengambil barang di rak yang tinggi. Beberapa hari kemudian, rasa tidak nyaman mulai muncul saat mengenakan baju, menyisir rambut, atau mengancingkan bra. Lama-kelamaan, bukan hanya nyeri yang mengganggu, tetapi bahu juga semakin kaku hingga Anda kesulitan mengangkat lengan setinggi bahu.

Banyak orang menganggap keluhan tersebut hanya pegal akibat kelelahan atau salah posisi tidur. Sebagian bahkan memilih pijat atau membiarkannya karena berharap keluhan akan membaik dengan sendirinya.

Padahal, keluhan tersebut dapat menjadi tanda frozen shoulder, yaitu kondisi yang membuat bahu kehilangan kelenturannya secara bertahap.

Jika Anda sedang mengalaminya, rasa khawatir tentu sangat wajar. Ketika aktivitas sederhana mulai terasa sulit, banyak orang mulai bertanya apakah bahunya masih dapat kembali normal. Kabar baiknya, sebagian besar penderita frozen shoulder memperoleh perbaikan apabila dokter menegakkan diagnosis lebih awal dan segera memberikan penanganan yang tepat.

frozen shoulder

Apa Itu Frozen Shoulder?

Frozen shoulder atau adhesive capsulitis merupakan kondisi ketika kapsul sendi bahu mengalami peradangan, kemudian menebal, mengencang, dan membentuk jaringan parut. Perubahan tersebut membatasi pergerakan sendi sehingga bahu menjadi semakin kaku.

Untuk memahaminya, bayangkan sendi bahu seperti sebuah bola yang berada di dalam kantong elastis. Kantong inilah yang disebut kapsul sendi. Pada bahu yang sehat, kapsul tetap lentur sehingga lengan dapat bergerak bebas ke berbagai arah, mulai dari mengangkat tangan, memutar bahu, hingga meraih benda di belakang tubuh.

Pada frozen shoulder, kapsul sendi perlahan kehilangan elastisitasnya. Kapsul yang semula lentur berubah menjadi lebih tebal, menyusut, dan kaku. Akibatnya, setiap gerakan terasa seperti ada sesuatu yang menahan dari dalam sendi. Karena itu, penderita tidak hanya merasakan nyeri, tetapi juga mengalami keterbatasan gerak yang semakin berat seiring waktu.

Berbeda dengan pegal otot biasa, frozen shoulder terjadi akibat perubahan pada kapsul sendi bahu. Oleh sebab itu, pijatan atau istirahat singkat umumnya tidak mampu mengatasi penyebab utama keluhan tersebut.


Mengapa Frozen Shoulder Bisa Terjadi? 

Hingga saat ini, para ahli belum mengetahui penyebab pasti frozen shoulder. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa proses peradangan pada kapsul sendi memicu terbentuknya jaringan parut. Proses tersebut membuat kapsul semakin kaku, menebal, dan menyusut sehingga gerakan bahu menjadi terbatas.

Beberapa kondisi dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami frozen shoulder, antara lain:

  • Usia 40–60 tahun.
  • Perempuan lebih sering mengalaminya dibandingkan laki-laki.
  • Diabetes melitus.
  • Gangguan hormon tiroid.
  • Penyakit Parkinson.
  • Riwayat stroke.
  • Cedera bahu.
  • Bahu yang tidak digerakkan dalam waktu lama setelah operasi, patah tulang, atau cedera.

Di antara seluruh faktor tersebut, diabetes melitus merupakan faktor risiko yang paling kuat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penderita diabetes memiliki risiko beberapa kali lebih tinggi mengalami frozen shoulder dibandingkan populasi umum. Oleh karena itu, pasien diabetes yang mulai merasakan nyeri dan kekakuan bahu sebaiknya segera memeriksakan diri agar dokter dapat mengenali kondisi ini sejak dini.

Apa Saja Gejala Frozen Shoulder? 

Gejala frozen shoulder biasanya berkembang secara perlahan selama beberapa bulan. Pada tahap awal, nyeri menjadi keluhan utama. Seiring berjalannya waktu, rasa nyeri mulai berkurang, tetapi bahu justru semakin sulit bergerak.

Keluhan yang sering muncul antara lain:

  • Nyeri saat mengangkat lengan.
  • Sulit menyisir rambut.
  • Sulit mengenakan pakaian.
  • Sulit mengancingkan bra atau mengambil dompet dari saku belakang.
  • Sulit meraih barang di rak atas.
  • Nyeri saat tidur dengan posisi miring pada bahu yang sakit.
  • Bahu terasa seperti “terkunci” ketika bergerak.

Berbeda dengan nyeri otot biasa, frozen shoulder tidak hanya menimbulkan rasa nyeri, tetapi juga membatasi gerakan bahu secara nyata. Saat memeriksa pasien, dokter tetap menemukan keterbatasan gerak meskipun dokter yang menggerakkan bahu. Dokter menyebut kondisi tersebut sebagai penurunan gerak aktif dan pasif, yang menjadi salah satu ciri khas frozen shoulder.


Tahapan Frozen Shoulder

Frozen shoulder berkembang melalui tiga fase. Setiap fase menimbulkan keluhan yang berbeda dan memerlukan waktu yang berbeda pula.

1. Fase Nyeri (Freezing Phase)

Fase ini merupakan tahap awal frozen shoulder.

Nyeri menjadi keluhan utama, terutama saat bahu bergerak atau pada malam hari. Banyak pasien mengaku sering terbangun karena nyeri bertambah ketika mereka berbaring atau tidur pada sisi bahu yang sakit.

Fase ini biasanya berlangsung selama 2–9 bulan.

2. Fase Kaku (Frozen Phase)

Pada fase ini, rasa nyeri mulai berkurang. Namun, kapsul sendi semakin mengencang sehingga bahu kehilangan kelenturannya dan gerakannya semakin terbatas.

Akibatnya, pasien mulai kesulitan:

  • mengenakan pakaian,
  • menyisir rambut,
  • mengangkat barang,
  • mengambil dompet dari saku belakang.

Fase ini biasanya berlangsung selama 4–12 bulan.

3. Fase Pemulihan (Thawing Phase)

Pada fase ini, kapsul sendi perlahan kembali melunak sehingga gerakan bahu mulai membaik.

Kemampuan menggerakkan bahu tidak kembali dalam waktu singkat. Sebaliknya, pasien akan merasakan perbaikan sedikit demi sedikit selama beberapa bulan. Pada sebagian besar pasien, proses pemulihan dapat berlangsung hingga 1–3 tahun.


Apakah Semua Bahu Kaku Berarti Frozen Shoulder?

Tidak. Berbagai penyakit lain juga dapat menyebabkan nyeri dan kekakuan pada bahu, antara lain:

  • robekan tendon rotator cuff,
  • osteoartritis bahu,
  • peradangan tendon (tendinitis),
  • cedera akibat jatuh,
  • saraf terjepit pada leher.

Karena beberapa penyakit tersebut memiliki gejala yang mirip, dokter perlu memeriksa pasien secara menyeluruh sebelum memastikan penyebab keluhan.

Dokter biasanya memulai pemeriksaan dengan wawancara medis dan pemeriksaan fisik. Jika hasilnya belum cukup, dokter dapat menambahkan pemeriksaan penunjang, seperti foto rontgen atau MRI, untuk membantu menegakkan diagnosis.

Bagaimana Penanganan Frozen Shoulder? 

Penanganan frozen shoulder bertujuan mengurangi nyeri, mempertahankan gerakan bahu, dan membantu pasien kembali menjalani aktivitas sehari-hari. Untuk mencapai tujuan tersebut, dokter akan memilih terapi sesuai fase penyakit, tingkat kekakuan, dan kebutuhan setiap pasien.

Pilihan terapi meliputi:

  • edukasi mengenai perjalanan penyakit;
  • obat antinyeri dan antiinflamasi bila diperlukan;
  • program fisioterapi yang berfokus pada latihan peregangan secara bertahap;
  • injeksi kortikosteroid intraartikular pada pasien tertentu untuk membantu mengurangi peradangan dan nyeri, terutama pada fase awal penyakit; serta
  • tindakan arthroscopic capsular release apabila terapi konservatif belum mampu memberikan perbaikan yang memadai.

Perlu dipahami bahwa tidak ada terapi yang dapat menghilangkan kekakuan secara instan. Hasil pengobatan bergantung pada terapi medis, latihan yang pasien lakukan secara konsisten, serta kesabaran selama menjalani proses pemulihan.


Apakah Frozen Shoulder Bisa Sembuh? 

Ya. Sebagian besar pasien dapat kembali menggunakan bahunya dengan jauh lebih baik setelah menjalani terapi yang sesuai.

Namun, setiap orang memiliki kecepatan pemulihan yang berbeda. Usia, diabetes melitus, tingkat kekakuan sendi, serta kepatuhan menjalani fisioterapi akan memengaruhi hasil terapi. Semakin cepat dokter mengenali frozen shoulder dan memulai penanganan, semakin besar peluang pasien mempertahankan fungsi bahu dan kembali beraktivitas dengan nyaman.


Jangan Menunggu Hingga Frozen Shoulder Semakin Membatasi Aktivitas 

Kembali pada cerita di awal. Setelah dokter memastikan penyebab keluhan, dokter menyusun rencana terapi yang sesuai, kemudian pasien mulai berlatih secara rutin. Perubahan memang tidak muncul dalam beberapa minggu. Namun, sedikit demi sedikit pasien kembali mampu menyisir rambut, mengenakan pakaian sendiri, hingga mengambil gelas di rak dapur tanpa rasa takut.

Keberhasilan terbesar sering kali bukan hanya saat nyeri berkurang, tetapi ketika seseorang kembali mampu melakukan aktivitas sederhana yang sebelumnya terasa mustahil.

Apabila Anda mengalami nyeri bahu yang tidak kunjung membaik, bahu terasa semakin kaku, atau aktivitas sehari-hari mulai terganggu selama beberapa minggu, segera konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter spesialis ortopedi subspesialis bahu dan siku.

Dokter akan mewawancarai Anda mengenai keluhan yang dirasakan, memeriksa kondisi bahu secara menyeluruh, dan mempertimbangkan pemeriksaan penunjang seperti foto rontgen atau MRI bila diperlukan. Setelah mengetahui penyebabnya, dokter akan menyusun terapi yang paling sesuai dengan kondisi Anda.

Tujuan utama pengobatan bukan hanya mengurangi nyeri. Yang lebih penting, terapi membantu Anda kembali bergerak dengan nyaman, mandiri, dan menikmati aktivitas sehari-hari tanpa terhambat oleh frozen shoulder.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *