Runner’s Knee: Penyebab dan Cara Mengatasinya
Runner’s knee merupakan istilah umum untuk nyeri di sekitar tempurung lutut (patella) yang sering muncul saat berlari. Namun, kondisi ini tidak hanya dialami oleh pelari. Orang yang sering naik turun tangga, duduk lama kemudian berdiri, atau melakukan aktivitas dengan tekanan berulang pada lutut juga dapat mengalami keluhan serupa.
Dalam dunia medis, dokter mengenal kondisi ini sebagai Patellofemoral Pain Syndrome (PFPS). Penderita biasanya merasakan nyeri di bagian depan lutut, tepat di sekitar atau di belakang tempurung lutut. Keluhan dapat berupa nyeri tumpul, nyeri saat menekuk lutut, atau bunyi “klek” ketika lutut digerakkan.
Meskipun disebut runner’s knee, siapa saja yang memberikan beban berulang pada lutut dapat mengalami kondisi ini.

Penyebab Runner’s Knee
Runner’s knee memiliki penyebab yang bersifat multifaktorial. Artinya, beberapa faktor dapat berkontribusi terhadap munculnya keluhan ini. Salah satu penyebab utama adalah ketidakseimbangan otot di sekitar lutut dan panggul. Otot paha depan (quadriceps) dan otot luar paha (vastus lateralis) yang lebih kuat dibandingkan otot bagian dalam (vastus medialis) dapat menarik tempurung lutut ke arah luar. Kondisi tersebut meningkatkan gesekan pada permukaan sendi.
Selain itu, kelemahan otot panggul (gluteus medius) membuat posisi paha menjadi kurang stabil saat seseorang berjalan atau berlari. Akibatnya, arah tarikan pada tempurung lutut ikut berubah.
Faktor biomekanik lain yang dapat meningkatkan risiko meliputi:
- Overpronation (kaki bergulir ke dalam saat menapak)
- Kaki datar (flat foot)
- Perbedaan panjang tungkai
- Teknik lari yang kurang baik
Aktivitas berulang tanpa istirahat yang cukup, peningkatan intensitas latihan secara tiba-tiba, serta berlari di permukaan yang tidak rata juga dapat memperbesar risiko terjadinya runner’s knee.
Gejala Runner’s Knee
Runner’s knee memiliki gejala yang cukup khas. Nyeri biasanya muncul saat berlari, menaiki atau menuruni tangga, berdiri lama dengan lutut menekuk (theater sign), atau setelah duduk dalam waktu lama kemudian berdiri. Sebagian penderita juga merasakan nyeri ketika menekuk lutut saat duduk. Selain itu, beberapa orang merasakan sensasi krepitasi berupa bunyi atau getaran ketika meluruskan maupun menekuk lutut. Saat melakukan pemeriksaan fisik, dokter atau fisioterapis sering menemukan nyeri ketika menekan tepi atau bagian bawah tempurung lutut. Nyeri juga dapat muncul ketika dokter menekan tempurung lutut ke arah tulang paha sambil meminta pasien menekuk lutut.
Penanganan Runner’s Knee
Penanganan runner’s knee pada dasarnya bersifat konservatif dan dilakukan secara bertahap.
Langkah pertama adalah melakukan istirahat relatif dari aktivitas yang memicu nyeri, bukan menghentikan seluruh aktivitas fisik. Mengurangi jarak atau intensitas lari, kemudian menggantinya sementara dengan berenang atau bersepeda statis, dapat membantu mengurangi beban pada lutut.
Kompres es pada area yang nyeri selama 15–20 menit beberapa kali sehari dapat membantu mengurangi inflamasi dan rasa sakit pada fase akut. Dokter juga dapat memberikan obat antiinflamasi nonsteroid, seperti ibuprofen, sesuai petunjuk penggunaan untuk membantu mengurangi nyeri dan pembengkakan. Rehabilitasi jangka panjang berfokus pada latihan penguatan dan peregangan. Program latihan menguatkan kuadrisep bagian dalam (vastus medialis obliquus), otot panggul (gluteus medius dan gluteus maximus), serta otot inti agar stabilitas sendi lutut meningkat.
Beberapa latihan sederhana yang dapat dilakukan meliputi:
- Straight leg raises
- Mini-squats dengan teknik yang benar
- Clamshell
- Hip abduction
Selain latihan penguatan, peregangan otot betis, hamstring, dan paha bagian depan membantu mengurangi ketegangan yang menarik tempurung lutut. Fisioterapis dapat menyusun program latihan yang sesuai, memantau perkembangannya, dan menyesuaikannya dengan penyebab spesifik pada setiap pasien.
Pencegahan Runner’s Knee
Pencegahan memegang peranan penting untuk mengurangi risiko runner’s knee.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan meliputi:
- Meningkatkan beban latihan secara bertahap (aturan 10% per minggu)
- Menggunakan sepatu lari yang sesuai dan menggantinya apabila sudah aus
- Mempertimbangkan penggunaan orthotic atau insole bila terdapat overpronation
- Memperbaiki teknik lari dengan bantuan pelatih bila diperlukan
- Melakukan pemanasan sebelum berolahraga
- Melakukan pendinginan dan peregangan setelah berolahraga
Bagi pekerja maupun pelajar yang sering duduk dalam waktu lama, berdiri dan melakukan peregangan secara berkala juga dapat membantu mengurangi kekakuan.
Kapan Harus Berkonsultasi ke Dokter?
Segera berkonsultasi ke dokter ortopedi atau fisioterapis apabila nyeri tetap berlanjut meskipun sudah beristirahat dan menjalani penanganan dasar selama 4–6 minggu. Pemeriksaan juga diperlukan apabila nyeri semakin berat, muncul pembengkakan yang signifikan, atau timbul kesulitan menahan beban pada kaki.
Pada tahap awal, dokter umumnya tidak memerlukan pemeriksaan rontgen atau MRI. Namun, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan lanjutan apabila mencurigai adanya masalah struktural lain.
Kesimpulan
Sebagian besar kasus runner’s knee dapat membaik tanpa operasi. Istirahat relatif, latihan penguatan, peregangan, koreksi teknik, dan upaya pencegahan menjadi bagian penting dalam penanganannya.
Mengenali gejala sejak dini serta menyesuaikan aktivitas akan memberikan waktu bagi lutut untuk pulih sekaligus membantu memperbaiki faktor-faktor yang menjadi penyebab runner’s knee.
Penulis : dr. Eukarista Kinanthi Wiksasanti
Dokter Peninjau : dr. Luthfi Hidayat, Sp.OT.Subsp.PL(K)
Spesialisasi : Ortopedi dan Traumatologi Subspesialis Panggul dan Lutut
